Translate

Sabtu, 26 September 2020

PERTEMUAN (BAGIAN II)


PERTEMUAN

 

 

Teruntuk kamu yang masih dirahasikan,

Semoga Allah segera mempertemukan,

Menunggumu dalam diam

Membuatku tahu arti dari sebuah kesabaran

Apa disana kamu pernah berfikir tentangku?

Tentang orang yang kamupun juga tak tahu?

 

Kudus, 11 Mei 2019

A.R

 

Awalnya aku tak begitu peduli tentang bagaimana rencana hidup kedepan. Jujur aku sendiri takut dengan diriku sendiri, bukan dengan orang lain yang bisa membuatku sakit. Justru rasa sakit yang dirasa dalam diri kita sepenuhnya terjadi karena diri kita sendiri. Alasan mengapa kita terlalu menaruh harapan untuk orang lain? Hal tersebut tak seharusnya dilakukan.

Pembodohan terhadap diri sendiri sering kali dialami seseorang hanya untuk merasakan kebahagiaan yang justru dipaksakan dengan ego yang begitu besar. Karena ketika ego yang dikedepankan, semuanya menjadi benar. Hal-hal yang seharusnya tak dilakukan berubah menjadi petaka kenikmatan sesaat.

Inilah fakta yang sering kutemui. Banyak diantara mereka yang menyalahkan pasangan mereka setelah tak ada lagi hubungan yang terjalin antar keduanya. Mencari kesalahan satu sama lain, tanpa memperdulikan kesalahan mereka sendiri. Dianggapnya semua benar, tak ada yang salah. Menyalahkan takdir yang mempertemukan, menyalahkan Tuhan yang menyatukan.

Apakah itu benar? Tak sepantasnya menyalahkan semua yang telah terjadi. “Hidup itu rumit, untuk itu temukanlah cara sederhana untuk menjalaninya”.

Dari situlah aku merasa untuk tak terlalu memikirkan seseorang dalam hidupku. Karena ketakutan bisa menjebak diriku dalam kegelisahan. Tidak ada salahnya menaruh rasa,  namun ada batasan-batasan yang tetap harus dijaga.

Seperti halnya saat ini, saat dimana perasaan membuatku binggung tentang apa sebenarnya yang telah terjadi. “Jatuh hati terhadapmu”, itu selalu membinggungkanku. Mengapa Tuhan menghadirkanmu? Menitipkan perasaan ini padaku? Aku selalu berusaha untuk mengabaikannya, mengingat prinsip yang telah kubuat sebelumnya untuk tak terlalu dalam menyimpan rasa. Namun tak semudah itu, aku terus mengingatnya, bahkan hatiku terkadang hancur ketika diabaikan olehnya. Awalnya dirimu begitu manis, hingga akhirnya sekat itu muncul dan menjauhkan segalanya.

 

Tentang Rasa

Untuk apa diciptakan rasa, bila kehadirannya hanya membuat luka?

Banyak orang yang membicarakan tentang kebahagiaan yang tumbuh karena rasa cinta.

Jika tidak, mungkin kamu  menaruhnya ditempat yang salah.

Kalau memang salah, untuk apa kata itu dibuat?

Mengapa perasaan selalu bergejolak?

Entahlah.....

Seakan mencintai seseorang adalah keselahan, ketakutan, rasa sepi dan sesak dihati.

Mungkin karena aku sendiri tak au tersakiti dan kembali salah menitipkan hati.

Benar.

Sikapku terlalu berlebihan

Namun setiap aku menitipkan rasa,

Hanya lara yang terasa.

Terkadang aku selalu berfikir,

Kesalahan apa yang kuperbuat dimasa lalu

Hingga seseorang enggan menetap bersamaku,

Membangun kebahagiaan bersama,

Dengan banyak cerita didalamnya.

 

Kudus, 5 September 2019

A.R

 

Aku diombang-ambing kegelisahan karenamu. Benar, manusia mudah sekali berubah. Begitupun denganmu. Situasi ini membuatku tak nyaman.

Walaupun dari awal tak ada ikatan, namun sikapmu membuatku salah paham. Kau terlalu manis dalam bersikap.

Sebelumya hidupku berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Hingga Tuhan mempertemukanmu, orang yang tak pernah ku sangka akan menjadi labuhan hatiku.

Kita dekat karena keadaan, keadaan yang membawa perubahan besar dalam diriku. Kau menceritakan keluh-kesah hidupmu, entah itu keluarga, lingkungan sekitar, bahkan kejadian-kejadian yang kau alami saat itu.