Translate

Selasa, 06 Oktober 2020

MEI (Terlahirnya Sang Pena Keajaiban)

 

MEI

(Terlahirnya Sang Pena Keajaiban)

 

Terlahirnya sang pena keajaiban. Sebuah sebutan untuk dia yang selalu sabar dalam menunggu sebuah penantian, bagaimana bisa kamu setabah ini? Memilih pura-pura tak mengetahui segalanya. Apa yang sebenarnya engkau harapkan darinya? "TIDAK ADA". Tegas jawabnya. Katanya level tertinggi dalam mencintai seseorang adalah mencintai tanpa harap. Mereka hanya bertugas untuk mencintai dan selebihnya biar semesta saja yang bekerja. Baik buruknya jalan yang akan dihadapi nantinya itu urusan Tuhan, kita hanya menjalankan. Bukankah Tuhan juga yang tahu persis kebahagiaan mana yang baik untuk kita. Lalu kenapa kita mesti ragu akan ketetapan-NYA?




Mei, rasanya seperti saya terlahir kembali. Seketika sapa indah itu perlahan mulai datang. Ia begitu indah, sangat indah. Naluriku terus saja bergerak mengingatnya, mengingat setiap bagian yang melekat dalam raganya. Bagimana bisa kamu melakukannya? Setiap hal yang terjadi dalam perjalananku kali ini, hanya kamu yang terbawa. Apa mungkin kamu ini nyata? Atau hanya ilusi yang ku cipta? Perlahan mata ini terpejam, memikirkan apa yang sebenarnya semesta rencanakan.

Kemarilah, bawa saya pergi kemana jawaban ini kan terjadi. Temukan saya dalam kebahagiaan yang abadi. Kemarilah, tarik saya menuju cakrawala bumi ini. Tatkala keindahan ini kan muncul setiap hari. Saya terus saja mencari, mencari jawaban-jawaban yang kian mengelabuhi batin ini.

Bisikan aku pada setiap perkataanmu. Agar aku tahu jalan untuk berlabu, Hahahahahah...... Itu saja yang saya tahu tentangmu, saya juga tidak mengerti bagaimana kamu bisa sejauh ini. Setiap jalan yang ku lalui, memberi arti kenangan tersendiri mengenai sosok tentangmu. Garis pipi ini mulai melebar, memberikan isyarat padamu, betapa bahagia ini selalu merangkulku setiap kali jemari ini bergerak lembut menuliskan aliterasi terhadapmu.

Tik.......tik....tik.....tikkkk...... suara ini terus saja mengema. Bukan hujan ataupun itik. Namun suara mesin yang selama ini memberikan saya banyak ingatan yang mungkin saja kan pergi. Iya benar, mesin elektronikku ini berguna sekali, ia menyimpan banyak memori-memori otak yang kadang tak sempat ku ingat. Kadang saya pun binggung harus menceritakan hal apa lagi untuk membuat sebuah kenangan manis yang pernah terjalin, menuliskan kisah sejarah bertemunya ‘Insan Tuhan’  dengan ‘Sang Pena Keajaiban’.

 



Saya tidak pernah mengira sebelumnya bahwa semesta menuntun saya menuju perasaan sedalam ini. Begitu dalamnya hingga saya terbawa pada negeri yang mengajarkan arti penderitaan dan kekecewaan diri. Mereka mengajariku banyak hal tentang kehidupan. Bukan soal orang lain, namun tetang diri sendiri. Iya, diri saya. Begitu hebatnya diri kamu melewati semuanya sendiri, apa kamu tidak sadar? Berapa jurang penderitaan yang berhasil terkalahkan? Masih saja kamu anggap lemah? Bodoh!!!!!!! Pandang sekali lagi cermin itu, siapa yang selalu berdiri tegak disampingmu? Siapa yang tidak pernah meninggalkanmu? Siapa yang selalu berusaha memperbaiki hati disaat kekacauan emosi terjadi? “Ruhmu”. Milik siapa itu? “Tuhanmu”..... Diberikan untuk siapa? “Untukmu”. Benar kamu diberi kendali penuh untuk itu. Sadarlah betapa baiknya Tuhan memerikan kendali itu, namun apa yang kau lakukan? “Dengan mudahnya rasa menyerah itu kau junjung tinggi-tinggi, menyalahkan keadaan yang terjadi.”

Berterima kasihlah, mungkin itu kata yang paling sempurna dari saya, pun untuk saya. Karena bagaimanapun tak ada yang lebih baik selain menerima keadaan diri apapun yang terjadi. Pesanku untukmu, temukanlah orang yang benar-benar membuatmu bahagia dalam menjalani hidup kedepannya. Bukan sosok yang sempurna, namun yang bisa menjadikan ketidaksempurnaan menjadi hal yang kau suka. Bukan karena perintah, namun karena tuntunan perasaan dan hati. Dan ingat, saat kamu kecewa jangan pernah menyalahkan orang lain untuk itu, cobalah melihat diri. Mungkin saja kesalahan itu ada padamu, mungkin saja kecewa itu terbentuk karena harapan tertinggimu. Maka hiburlah dirimu, menangislah jika itu membuatmu tenang, berteriaklah jika itu melepaskan beban, dan berlarilah jika itu membantumu menemukan jalan keikhlasan. Itu jauh lebih mulia, dibandingkan sibuk mencari kesalahan lain disekitar. Semangatttt.... kamu kuat, kamu hebat.




Untuk insan Tuhan yang sedang merayakan kebahagiaan, untuk waktu dimana kehadiran itu berasal, terima kasih. Hari ini aku menuliskan beberapa hal yang membuat detak dalam diriku tak ingin berhenti bergejolak. Entahlah namun setiap kehadiran yang kau buat membuat nafas ini seolah-olah diajak berlomba lari, udara dalam paru-paruku  seketika menerima sinyal, tubuhku merespon dengan sigap sepertinya benar nafas ini sedikit terengah-engah. Dadaku rasanya ingin meletup tanpa sebab. Reaksi apa ini? Mengapa datang secepat ini? Aku tak mengerti, mengapa perasaan ini makin tumbuh dan menyemi. Sebenarnya pupuk apa yang kau berikan? Mengapa terus saja memekarkan bunga kesenangan. Jangan-jangan kamulah kebahagiaan tanpa alasan. Sebab seseorang yang menjadi prioritas tidak akan pernah meminta alasan.

***

Sore untuk kemilau

Sinarmu selalu menampakkan diri

Setiap kali hadir ini kutemui,

Terima kasih untuk setiap detik kehidupan,

Hadirmu selalu memberi warna tersendiri,

Membuat rinduku terasa nyata menghampiri

 

Selasa, 5 Mei 2020

A.R

Berada pada tempat dimana rindu itu menemui majikannyaJ

 

Hmmmmm......

Sedikit bercerita mengenai isi puisi “Insan Tuhan”. Puisi tersebut tercipta berkat ‘Insan Tuhan’ yang selama ini menjadi inspirator bagi saya sendiri. Iya, dia sedang merayakan hari baik. Hari dimana berpuluh-puluh tahun yang lalu ia dilahirkan. Hari yang semua orang selalu nantikan. Hari dimana lantunan do’a begitu deras terlontarkan. Namun dihari itu pula saya tidak mampu memberinya sebuah ucapan kebahagiaan. Bukan karena tak mau, hanya saja situasi saat itu berubah. Ingin, namun tak mampu. Dari sanalah puisi ini ada, diciptakan dengan begitu banyak balutan rasa. Dari cerita-ceritanya, dari keluh-kesah hatinya, dari kesakitan yang pernah dirasa, terlantunlah sepucuk do’a dan harapan penulis untuknya. Pesannya “Dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun keadaannya sekarang, tetap jaga kesehatan” semangat. Untuk kamu yang jauh disana.

Kamis, 01 Oktober 2020

PUISI SEMU

 

TAK ADA SEMU

 

Seperti biasanya,

Dewata masih saja cerah

Menghadirkan jejak semu tentangmu

Seperti anyaman yang rancu

Imajinasiku menghadirkanmu

Menyempurnakan bagianku

 

            Tarian ombak menarikku

            Mengarahkan intuisi padamu

            Bersama kita nikmati hangatnya senja

            Kau berbisik “Aku itu semu, bagaimana bisa membahagiakanmu?”

 

Bagiku ini angin dan perahu

Saling melintas bersama dalam ruang rencana

Salah satu terlihat semu

Namun berjalan dalam satu

Tanpa angin, tak ada gerakan pada perahu

 

            Memang tak terlihat

            Namun menuntun kesuatu jalan

            Memang tak tersentuh

            Namun Mengarahkan tempat tujuan

 

Jum’at, 26 Juni 2020

A.R